Di Bukit Lawang


Jembatan Gantung sebagai salah satu sarana transportasi
sekaligus penghubung satu desa dengan  desa lainnya.
"Bukit Lawang, Sesuatu!"

Sepulang dari acara Gathering Penerima Beasiswa di Pusat Pelatihan Infanteri, Cipatat-Jawa Barat, Aku masih punya waktu liburan semester kurang lebih satu setengah bulan lagi. Awalnya rencanaku adalah memperpanjang tiket pulang ke sumatera dan menghabiskan liburanku di bandung, namun karena beberapa hal akhirnya rencana tersebut hanya tinggal rencana. Aku bersama rombongan dari universitas kembali ke sumatera tepatnya ke Kota Medan. Aku memutuskan untuk kembali ke Pematang Siantar dan berniat menghabiskan liburanku disana. Selama kurang lebih satu minggu aku berada disana dan merasakan sebuah kebosanan yang luar biasa, kalau orang-orang sering bilang dengan istilah “Bosan tingkat Dewa”. Pasalnya tak satu pun aktivitasku yang menarik dan berarti, bangun pagi, makan, nonton, makan, tidur, mandi, makan, nonton dan tidur lagi. Hohhhh.. benar-benar sebuah aktivitas yang dapat mengakibatkan obesitas, serangan jantung dan gangguan kehamilan dan janin. Hahaha,, kayak merokok ya.


Ini dia pesona Sungai bahorok, kejernihan airnya selalu
menarik anda untuk segera bergegas  nyebur ke sungai.
Ini salah satu wisata air yang bisa dinikmati di Bukit Lawang
 Salah satu teman menawarkanku untuk ikut dalam sebuah tim yang akan berangkat mengikuti program magang dari Himpunan Mahasiswa ke sebuah NGO yang bergerak di bagian lingkungan hidup. Alasannya adalah beberapa personil tim yang sudah di bentuk di awal mengundurkan diri karena tidak adanya fasilitas dari pihak NGO sehingga semua biaya yang akan keluar selama magang ditanggung oleh peserta magang itu sendiri. Akupun menerima tawaran itu, karena bagiku pengalaman adalah yang utama, sedangkan fasilitas dan uang saku adalah nilai tambah atau hanya bunga-bunga dari sebuah pengalaman. Bukit Lawang merupakan salah satu kawasan ekowisata yang berada berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Medan ke tempat ini. Pesona aliran Das Bahorok yang jernih dan agak jeram juga menambah eksotisme lokasi wisata ini. Jujur, ini kali pertama aku datang ke tempat ini. Konon di tempat ini pernah terjadi Banjir Bandang yang menghanyutkan ratusan rumah dan menenggelamkan ratusan orang yang beraktivitas dan tinggal di tepi Sungai Bahorok ini. Namun sekarang masyarakat sudah bangkit dan perlahan kembali menata lokasi wisata ini sedemikian rupa sehingga sangat nyaman dan menarik wisatawan lokal bahkan manca negara untuk menghabiskan waktu liburan mereka di tempat ini.


Jungle House inilah tempat penginapan kami
selama seminggu di bukit lawang.
 Ada setumpuk jadwal kegiatan yang kami kerjakan di tempat ini selama satu minggu. Kami ada tujuh orang dalam satu tim. Tempat penginapan kami adalah “Jungle House”, sejenis Mess penginapan yang berada di tengah hutan namun masih termasuk ke dalam kawasan sebuah Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) yang di kelola oleh NGO yang bekerjasama dengan kami. Sebenarnya cukup seram bagi kami untuk tinggal di sebuah bangunan yang lama tak di huni, berada di tengah hutan dan terpencil alias jauh dari keramaian . Namun itulah yang kami alami selama satu minggu dan kami menikmatinya.









Jangan menyesal kalau pulang tanpa mencoba rafting.
Gua kalelawar ini cukup unik dan mengesankan.
 Potensi wisata di lokasi ini semakin dapat dikembangkan oleh masyarakat lokal melalui paket-paket wisata yang ditawarkan seperti rafting, tracking, feeding dan lain sebagainya. Apalagi aliran air sungai yang menjadi wisata air tersendiri yang juga dapat dijadikan untuk kegiatan olahraga. Tidak jauh dari tempat itu juga terdapat tiga buah Gua yang begitu menarik rasa penasaran para wisatawan yang datang ke tempat itu, Gua Kampret (Bat Cave), Gua Wallet (Swallow Cave) dan Gua Kapal (Ship Cave). Dari ketiga gua tersebut, kami hanya mengunjungi satu gua yaitu Gua Kampret, yang berada sekitar 2 km dari tempat penginapan kami. Wow, lagi-lagi ini pertama kali aku masuk ke dalam sebuah gua, aku begitu terpesona dibuatnya, kedalaman gua ini sekitar 300 meter dan terbagi menjadi 3 ruang. Sangat hebat dan luar biasa gua ini. Gua ini sangat-sangat gelap, senter Hp yang awalnya kami andalkanpun tidak berarti apa-apa sehingga kami hanya mengandalkan satu-satunya senter milik seorang guide yang bersama-sama dengan kami. Ada banyak kalelawar di dalam sana, bener-bener amazing.

 Satu lagi tempat menarik adalah feeding, yaitu tempat pemberian makan Orang utan. Tempat ini juga belum sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu. Namun berdasarkan informasi yang saya peroleh, Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu populasi orang utan di sumatera dan Hewan Endemik ini yang menjadi salah satu daya tarik yang membawa wisatawan manca negara datang ke indonesia. Pasalnya Orang Utan akhir-akhir ini di kategorikan sebagai satwa terancam punah karena populasinya semakin berkurang dari tahun ke tahun akibat kerusakan hutan yang menyebabkan semakin berkurangnya habitat Orang utan.
Salah satu Art Galery/Art shop di Bukit Lawang didesain seunik mungkin untuk  menarik para wisatawan.

 Orang utan sumatera yang memiliki nama latin Pongo abelii ini menjadi salah satu maskot kawasan ekowisata ini. Buktinya hampir setiap barang yang dijual di pasar kenang-kenangan Bukit Lawang ini menunjukkan lukisan ataupun replika dari Orang utan. Di pasar kenang-kenangan yang berada di sepanjang tepi Bungai Bahorok ini menyediakan berbagai jenis barang-barang kerajinan tangan khas yang dapat di bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Selain itu, pelajaran memahat dan melukis juga dapat diperoleh dengan mengunjungi beberapa galeri para seniman di tempat ini. Sangat Mengesankan!

Ini teman-teman satu timku (Hafny, Jandri, Nicho, Ony, Sondang, Susan dan Yoga).

Komentar

Posting Komentar